Kiat Khusyu’ Dalam Shalat

Kiat Khusyu’ Dalam Shalat

Fauzan Ahmad az-Zumar

Ada beberapa kiat khusyu’ dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para   ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan  tata cara shalat. Berikut kami sampaikan tulisan yang dikutip dan diramu dari  buku “Kaifa Naksya’u Ash-Shalah”- oleh Fauzan Ahmad az-Zumari – cetakan      Darul Basyair al-Islamiyah – Beirut – Libanon.

 

Vitalitas shalat di antara sekian banyak ragam ibadah adalah aksioma yang sudah mengakar dalam aqidah dan keyakinan seorang mukmin. Betapa tidak?  Allah berrman tentang shalat dua kali, dalam deretan syarat keberuntungan   mukmin di hadapan Allah yaitu pada awalnya:     “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; Yaitu orang-orang   yang khusu’ dalam shalatnya…” sampai akhir ayat: ” …Yaitu   orangorang yang selalu melihara shalat-shalat mereka…’ (al- Mukminun: 1-9)

Firman Allah yang artinya:  “Kemudian, Allah menganugerahkan bagi mereka Jannah Firdaus nan abadi.” (al-Mukminun: 10)

Dengan shalat, pribadi mukmin dapat menggapai puncak kebahagian tertinggi,   sebagaimana tersebut di atas; dan jika serampangan menunaikannya, seorang  mukmin juga bisa terperosok ke jurang Wail di Narr Jahannam. Allah berrman:   Disalin dari majalah As-Sunnah 07/III/1424H hal 38 – 44.

“Maka Narr Wail bagi mereka yang shalat; yaitu orang-orang yang  melalaikan shalatnya itu..” (al-Ma’un: 3-4)

Melalui shalat, seorang mukmin dapat mengentaskan tabi’at buruk manusia yang  tak mau susah, tapi juga tak tahu di untung. Allah berrman:  “Sesunguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah lagi kikir; apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah; dan pabila  ia mendapat kebaikan ia amat kikir; melainkan orang-orang yang  shalat.’ (al-Ma’arij: 19-21)

Shalat adalah media efektif untuk mengerem manusia dari berbagai perbuatan   maksiat dan mungkaran:   Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu (dapat) mencegah  perbuatan keji dan mungkar. (al-Ankabut: 45)

Sebagai makhluk sosial, manusia juga pasti dilingkungi oleh komunitas hidup  yang akrab dengan beragam problematika. Ketabahan jiwa menghadapi berbagai  persoalan menjadi senjata ampuh menuju kebahagiaan hidup; pamungkas nya?

Bagi seorang mukmin, tentu saja hubungan yang menyeluruh dan berkwalitas dengan Sang Maha pencipta, yang tak lain adalah shalat:  Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai  penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  (al-Baqarah: 153)

Gelombang kehidupan yang terkadang bergolak amat keras juga seringkali  mengombangambingkan seorani mukmin antara ketaatan dan kemaksiatan.  Kitabullah sebagai pegangan, haruslah kita pelihara dengan sekuat tenaga.   Salah satu di antara kiat jitu melanggengkan sikap konsistensi kita berpegang kapada hukum ilahi adalah dengan memperbaiki kualitas shalat:      “Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab (Taurat)  serta mendirikan shalat, (akan Kami beri pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang menggadakan perbaikan.” (al-A’raf: 170)

Oleh sebab itu, di antara hal paling penting dari perintah Allah yang harus  disosialisakan dalam keluarga adalah juga, shalat. Melalaikan shalat adalah malapetaka. Sebaliknya, menyibukkan diri dengan ibadah tak akan membikin  manusia celaka, sengsara atapun merana.  “Dan perintahkanlah kepada keluarga kamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak     meminta dari kamu rezki. Kamilah yang akan memberimu   rezki. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang  bertakwa.” (ath-Thaha: 132)

Hanya saja, tak sembarang orang mukmin mampu dengan mudah mengabadikan  amalan shalat, apalagi dalam ujud yang sempurna rukun dan syaratnya,  ditambah sejumlah sunnahsunnah yang juga terdapat dalam shalat. Kemudahan itu hanya milik mereka yang mampu tampil khusyu’ dalam shalatnya. Dala hal itu, Allah sudah menegaskan: “Dan sesungguhnya yang demikian itu (shalat) amatlah berat, kecuali   bagi orang-orang yang khusyu'” (al-Baqarah: 45)

Celakanya, kebanyakan kaum Muslimin sering menjadi pelanggan shalat yang  kerap alpa, dan lalai melakukannya. Itu sudah menjadi ketentuan ilahi yang  akan berlaku, dan akan diperbuat oleh satu generasi di akhir jaman. “Maka datanglah sesudah mereka generasi yang jelek yang menyia- nyiakan shalat dan memper turutkan hawa nafsunya; maka mereka  kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)

Padahal, shalat adalah amalan yang paling utama, yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba di hari akhir nanti. Bahkan Rasulullah  menjadikannya sebagai wasiat akhir sebelum kematian beliau. Beliau bersabda:   “Allah, Allah, (Wahai kaum Muslimin) pelihara lah shalat, peliharalah shalat dan bertakwalah kepada Allah, serta peliharalah para hamba sahaya yang menjadi milikmu.”  ( 1Diriwayatkan oleh Abu Dawud: 5156, Ibnu Majah: 2689, Ahmad: 1/78 dan al-Baihaqi:  VIII/11, dari hadits Ali 414.)

Demikianlah keagungan nilai shalat, dan demikian sebagian di antara ratusan  dalil yang berbicara  tenntang keutamaan shalat. Dengan itu, kita dapat menilai  realita yang ada di kalangan kita kaum Muslimin: Yaitu realita menganggap   shalat hanya sebagai rutinitas hidup, instrumen pelehgkap dalam putaran roda  kehidupan, yang tak lagi memiliki ruh, kualitas dan kemuliaan yang seharusnya melekat pada ibadah shalat tersebut.

Shalat sudah dianggap melelahkan, terlalu menguras waktu (entah waktu yang  bagaimana), dan terkesan membosankan. Dan satu hal yang lumrah jika persepsi   itu memasyarakat, karena kaum Muslimin -kecuali yang mendapat rahmat Allah-  sudah kehilangan miliknya yang paling berharga dalam menjalankan shalat,  yaitu: kekhusyu’an. Nabi bersabda:  “Sesungguhnya karunia pertama yang dicabut Allah dari para hamba-  Nya adalah kekhusyu’an dalam shalat.”

Oleh sebab itu, sedapat mungkin kita berupaya memperoleh kembali (kalau  sungguh telah hilang dari kita) kekhusyu’-an dalam shalat yang menjadi ciri mereka yang meyakini hari kebangkitan; berusaha membiasakannya dalam diri kita, bahkan mencari cara dalam ajaran As-Sunnah yang dapat menguak jalan  ke arah it.

1 Definisi Dan Pengertian Khusyu’

1.1   Secara Bahasa

1.2    Secara bahasa, kata khusyu’ memiliki beberapa arti yang sama:

  1. Tunduk, pasrah. merendah atau diam.

Artinya mirip dengan kata khudhu’. Hanya saja kata khudhu’ lebih seri digunakan untuk anggota badan, sedangkan khusyu’ untuk kondisi dan  gerak-gerik hati.  (Lihat Mu’jamu Maqasiyisi al-Lughah: II/152, Bashairu dzawi At-Tamyiz: II/541-543, Tafsir al-Baghwi: III/ 301, Tafsir Abi As-Su’ud: V1/123 dan Fathul Bari:  II/222

2. Bisa juga berarti rendah perlahan, biasanya digunakan untuk suara. Allah befirman:  “Dan (khusyu’) merendahlah semua suara kepada Rabb Yang  Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar melainkan bisikan saja.” (Ath-Thaha: 108)

3. Arti khusyu’ juga bisa diam, tak bergerak.  Allah berrman yang artinya: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, kamu lihat bumi itu  diam tak bergerak (ada juga yang mengatakan: tandus-Pent),   dan apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak  dan subur.” (Al-Fusshilat: 39)

1.2 Menurut Istilah

Khusyu’ artinya: kelembutan hati, ketenangan sanubari yang berfungsi  menghindari keinginan keji yang berpangkal dari memperturutkan hawa   nafsu hewani, serta kepasrahan di hadapan ilahi yang dapat melenyapkan   keangkuhan, kesombongan dan sikap tinggi hati. Dengan itu, seorang hamba akan menghadap Allah dengan sepenuh hati. Ia hanya bergerak sesuai petunjuk-Nya, dan hanya diam juga sesuai dengan  kehendak-Nya.  (4Lihat “Al-Khusyu’ Ash-Shalah” oleh Ibnu Rajab al-Hambali.)

Adapun pengertian khusyu’ di dalam shalat:  kondisi hati yang penuh dengan ketakutan, mawas diri dan tunduk  pasrah di hadapan keagungan Allah. Kemudian semua itu membekas  dalam gerak-gerik anggota badan yang penuh hikmat dan konsentrasi  dalam shalat, bila perlu menangis dan memelas kepada Allah; sehingga tak memperdulikan hal lain. (      5Lihat Al-Khusyu’ karya Al-Hilali)

Pengertian kusyu’ tersebut diambil dar i fi rman Allah sebagaimana tersebut  sebelumnya: “..yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya..” (Al-  Mukminun: 1-2)

Mengenai makna kekhusyu’an itu, Ibnu Abba’s menandaskan: “Artinya penuh   takut dan khidmad.” Al-Mujahid menyatakan: “Tenang dan tunduk.” Sementara  Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan: “Yang dimaksud dengan kekhusyu’an di situ adalah kekhusu’an hati.”  Lain lagi dengan Hasan al-Bashri, beliau berkata:  “Kekhusyu’an mereka itu berawal dari dalam sanubari, lalu terkilas balik ke pandangan mata mereka sehingga mereka menundukkan  pandangan mereka dalam shalat.”

Imam Atha’ pernah berkata: “Khusyu’ artinya, tak sedikitpun kita mempermainkan salah satu  anggota tubuh kita.”  Jadi artinya, kekhusyu’an dalam shalat bukanlah sekedar kemampuan  memaksimalkan konsentrasi sehingga kiran hanya terfokus dalam shalat. Namun kekusyu’an lebih merupakan kondisi hati yang penuh rasa takut, pasrah,  tunduk dan sejenisnya; yang membias dalam setiap gerakan shalat menjadi  nampak anggun, khidmat dan tidak serampangan.

 

2 Kiat Khusyu’ Dalam Shalat

Ada beberapa kiat khusyu’ dalam shalat yang kerap kali disinggung oleh para  ulama dalam buku-buku mereka khususnya yang berkenaan dengan hukum dan   tata cara shalat. Di antaranya:

2.1 Mengenal Allah, Menghadirkan, Mengagungkan dan  Takut Kepada-Nya.   Orang yang paling khusyu’ dalam shalat adalah orang yang paling bertakwa.   Karena Allah berrman:  “(orang-orang yang khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa   mereka akan menemui Rabb mereka, dan bahwa mereka akan   kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 46)

Dalam hal itu Allah juga berrman:   “Sesungguhnya yang takut (bertakwa) kepada Allah hanyalah para   ulama.” (Al-Fathir: 28)  Maksudnya, hanya orang-orang yang berilmu yang tergolong bertakwa kepada     Allah. Dan tentunya, hanya merekalah yang digolongkan orang-orang yang  khusyu’ dalam shalatnya. Yang dimaksud dengan ilmu di sini tentunya ilmu  yang shahih yang membuahkan amalan shalih. Karena itu Al-Hasan al-Bashri  pernah menyatakan:  “Ilmu itu ada dua macam: ilmu ungkapan lidah, dan ilmu di sanubari. Adapun ilmu sanubari, itulah ilmu yang bermanfaat. Sedangkan ilmu ungkapan lidah, adalah hujah Allah atas manusia.”  Allah berrman: “Apakah kamu yang lebih beruntung wahai orang-orang musyrik  ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam, dengan  sujud dan berdiri, sedangkan ia takut akan (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya…” (Az-Zumar: 9)

2.2 Hendaknya Orang Yang Shalat Menyadari Bahwa.  Shalat Adalah Perjumpaan, Sekaligus  komunikasi  Dirinya Dengan Allah Hal itu telah diisyaratkan dalam hadits Nabi :  “Apabila seorang di antaramu sedang shalat, sesungguhnya dirinya  sedang berkomunikasi kepada Allah. Maka janganlah ia membuang  ludah ke hadapan muka, atau ke arah kanan; tapi hendaknya ia membuangnya ke-sebelah kiri, atau di bawah telapak kakinya.”  (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 531, Muslim: syarah Nawawi: 5/40-41, An-Nasa’i: 1/163, 11/52-53 dan lain-lain.)

Imam Nawawi berkata:  “Sabda beliau: “..sesungguhnya ia sedang berkomunikasi kepada    Rabb-nya…”, merupakan isyarat akan pentingnya keiklasan hati,  kehadirannya (dalam shalat) dan pengosongannya dari selain  berdzikir kepada Allah… ”  (Lihat Syarhu Shahih Muslim V/40-41.)

 

Jika shalat adalah komunikasi seorang hamba kepada Allah, dan itu sudah  disadari oleh orang yang shalat; maka sudah selayaknya hal itu memacu dirinya  untuk bersikap khusyu’. Karena diapun sadar, bahwa segala gerak hatinya, apalagi gerak tubuh kasarnya, pasti selalu diperhatikan oleh Allah.

2.3 Ikhlash Dalam Melaksanakannya.  Keikhlasan adalah ruh aural. Allah berrman:  “Yang menjadikan hidup dan mati, agar Dia menguji kamu siapakah di antara kamu sekalian yang terbaik amalannya.” (al-Mulk: 2)  Berkenaan dengan ayat ini; Fudhail bin Iyyadh pernah menyatakan:”Yang dimaksudkan dengan yang terbaik amalannya, adalah yang  paling ikhlas dan paling benar.” Satu amalan yang dianggap pelakunya sudah ikhlas, bila tak mencocoki ajaran syari’at (benar-pent), tak akan diterima. Demikian juga amalan yang benar sesuai ketentuan, namun tidak ikhlas karena Allah, juga tak ada gunanya. Ikhlas,     artinya hanya untuk Allah. Benar, artinya menuruti, Sunnah Rasul . (8Lihat Al-Hilyah – oleh Abu Nu’aim: V111/59, Tafsir al-Baghwi: 1V/369, Zadul Masir:  1V/79)

Satu amalan yang dilakukan dengan ikhlas, dengan sendirinya akan mudah    meleburkan diri si hamba secara menyeluruh ke dalam ibadah itu sendiri. Karena   tak satupun -menurut keyakinannya- yang pantas menguras perhatian dirinya  selain Allah.

2.4 Mengkonsentrasikan Diri Hanya Untuk Allah Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:  “Seandainya seorang hamba (sesudah berwudhu dengan baik) tegak  malakukan shalat, uji Allah, menyanjung-Nya, mensucikan diri-  Nya yang mana itu memang merupakan hak-Nya, mengkonsen-   trasikan diri hanya rnengingat Allah; maka ia akan keluar dari  shalatnya laksana bayi yang baru dilahirkan.” (Diriwayatkan oleh Muslim: 832 dan Ahmad: IV/ 112-385, dari hadits Amru bin Abasah.)

Al-Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Sesungguhnya kekhusyu’an dalam shalat itu hanya dapat dicapai     oleh orang yang mengkonsentrasikan hatinya untuk shalat itu,  disibukkan oleh shalat hingga tak mengurus yang lainnya; sehingga ia lebih mengutamakan shalat dari amalan yang lain.”

2.5 Menghindari Berpalingnya Hati Dan Anggota Tubuh. Dari Shalat Aisyah pernah bertutur:  “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang berpalingnya wajah  di kala shalat, ke arah lain. Beliau menjawab:  “Itu adalah hasil curian setan dari shalat seorang hamba.”

Ath-Tayyibi menyatakan:  “Dinamakan dengan “hasil curian”, menunjukkan betapa buruknya     perbuatan itu. karena orang yang shalat itu tengah menghadap Allah,  namun setan mengintai dan mencuri kesempatan. Apabila ia lengah,  setan langsung beraksi.

Imam Ash-Shan’ani menyatakan:   “Sebab dimakruhkannya berpaling tanpa hajat di kala shalat, karena     itu dapat mengurangi kekhusu’an, dan dapat juga menyebabkan  sebagian anggota badan berpaling dari kiblat. Juga karena shalat   itu adalah menghadap Allah. (Lihat Subulu as-Salam I/ 309-310.)

2.6 Merenungi Setiap Gerakan Dan Dzikir-Dzikir Dalam.  Shalat Imam Ibnul Qayyim pernah menyatakan:   “Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang  merenungi makna-makna Al-Qur’an. Yaitu keajaiban-keajaiban  Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan      segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami    bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan  dibaca) di setiap gerakan shalat.  Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari  ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan  ke-Maha Agung-an Allah.” (12Lihat Ash-Shalah karya Ibnul Qayyim.)

2.7 Memelihara Tuma’ninah (Ketenangan), Dan Tidak Terburu-buru Dalam Shalat Allah berrman:     “Dan apabila kamu sudah tenang, maka dirikanlah shalat…” (An-  Nisa’: 103) Ayat di atas jelas mengisyaratkan bahwa ketenangan, adalah faktor vital dalam  shalat yang harus diperhatikan. Sehingga “keharusan” shalat bagi seorang  mukmin di saat-saat berperang dengan orang-orang kar, dilakukan kala ia sudah     kembali tenang.

Hal ini juga terpahami jelas dari hadits tentang “Shalat orang yang asal-  asalan”, yang lalu dikoreksi oleh Nabi. Bahkan orang itu disuruh mengurangi   shalatnya dengan sabda beliau, yang artinya:   “…dan ruku’lah sehingga kamu tuma’ninah dalam ruku’ itu. lalu tegaklah berdiri sampai kamu tuma’ninah dalam berdiri…dst”  (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 757, 793, 6251 dan lain-lain, Muslim: 397, Abu Dawud:   956 dan yang lainnya.)

2.8 Semangat Dalam Melakukannya  Ini satu hal yang lumrah. Karena tatkala seseorang shalat dengan seenaknya,  malas dan tidak bersemangat; jelas tak akan dapat diharapkan kehusyu’annya.    Oleh sebab itu, dalam hadits yang diceritakan Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah pernah memasuki masjid. Tiba-tiba beliau melihat ada tali yang direntangkan antara dua tiang masjid tersebut.  Beliau lantas bertanya: “Untuk apa tali ini?” Para shahabat  menjawab: “Itu punyanya Zainab. Kalau dia lagi lemas waktu  shalat, itu dijadikan tempat berpegangan.” maka beliau bersabda,  yang artinya:  “Lepaskan tali itu. setiap kamu itu hendaknya shalat  dengan bersemangat. Kalau dia memang merasa capek, ya istirahat dulu.” (14Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 1150, Muslim: 784 dan lain-lain.)

Rasulullah juga pernah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu mengantuk, sedangkan ia     tengah melalukan shalat; hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehinga hilang rasa mengantuknya. Karena kalau ia shalat terus, jangan  jangan, ia ingin beristighfar malah mencaci dirinya sendiri” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 212, Muslim: 786, Abu Dawud: 1310, At-Tirmidzi: 388, an-Nasa’i: 11215-216, Ibnu Majah: 1370, Ahmad: VI/ 56, 202, 259, ad-Darimi: 1373 dan Malik dalam Al-Muwattha’: 31/118, dari hadits Aisyah.)

Berkenaan dengan hal itu, Imam An-Nawawi pernah menyataka “Hadits tersebut mengandung anjuran agar seorang hamba itu shalat  dengan konsentrasi penuh, khusyu’, terfokus kirannya kepada Allah  dan dengan semangat. Hadits tersebut juga menyuruh orang yang  mengantuk selagi shalat itu untuk tidur dulu, atau melakukan hal  lain yang dapat menghilangkan rasa kantuknya.” 16

Dalam hal ini, nampak sekali kesalahan sebagian kaum Muslimin yang  menganggap shalat yang khusyu’ itu cenderung harus dilakukan dengan lemah gemulai dan tak bertenaga. Kalau kita tilik kembali tata cara shalat yang diajarkan Nabi akan kita dapati bahwa seluruh gerakan shalat secara kolektif     ternyata harus dilakukan dengan bersemangat, bukan dengan melemas-lemaskan  tubuh.

Ambil contoh misalnya: ruku’. Di saat melakukan ruku’, orang yang shalat diperintahkan untuk meluruskan punggung. Namun disamping itu ia juga  diperintahkan untuk membengkokkan sedikit kedua tangannya. Konsekuensinya,   ia harus melakukan gerakan itu dengan perhatian penuh.  Contoh lain, kala bersujud. Di saat bersujud, seorang mukmin harus meluruskan punggungnya, meluruskan pahanya, meletakkan dengan tepat tujuh   anggota sujud, menekankan kening ke bumi, bertumpu pada kedua belah telapak  tangan, merapatkan kedua telapak kaki, mengarahkan dengan penuh jari-jari kaki     kearah kiblat, merenggangkan kedua lengan, menjauhkan perut dengan bumi; di samping juga berdzikir, memanjangkan sujud dan lain-lain. Semuanya itu, tak  syak lagi, hanya bisa dilakukan dengan penuh perhatian dan semangat yang tinggi.

2.9 Memilih Tempat Shalat Yang Sesuai

Artinya yang memenuhi syarat agar bisa membuat shalat kita menjadi khusyu’. Tempat tadi paling tidak harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

1.Tenang, dan jauh dari keributan yang ditimbulkan -mungkin- oleh  penuh sesaknya orang-orang yang shalat, sehingga membikin suara yang  mangganggu. Sesungguhnya Nabi pernah marah ketika dalam shalat beliau  mendengar suara ribut di belakangnnya.

2. Hadirnya para malaikat. Artinya, kita menghindari hal-hal/sesuatu yang menghalangi malaikat (rahmat) untuk memasuki tempat kita menunaikan  shalat. misalnya, lukisan benda bernyawa, atau anjing. Karena Nabi  bersabda:   “Para malaikat tidak akan memasuki satu rumah yang   didalamnya ada lukisan benda bernyawa, atau anjing.”( 17Diriwayatkan oleh al-Bukhari: 4225, 3322, 4002, 5949, Muslim: 2106, Tirmidzi: 2804,)

Imam al-Khitabi menjelaskan:   “Yang dimaksud di situ adalah para malaikat yang datang membawa       rahmat dan berkah, bukan para malaikat yang mencatat amalan   seorang hamba. Karena mereka (yang kedua) itu tak pernah berpisah   dengan manusia.” (Lihat “Hasyiah as-Sindi `ala Ibnu Majah”: 11/386.)

Di antaranya lagi, suara- suara musik. Juga termasuk di antaranya suara bell   lonceng. Karena Nabi pernah bersabda:   “Sesungguhnya lonceng itu adalah seruling-seruling setan.” (19Diriwayatkan oleh Imam Muslim: 2114, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra: 8812, Abu Dawud: 2556, Ahmad, dalam Musnadnya: 11/366-3720, al-Baihaqi dalam “as-Sunan  al-Kubra”: 5/253.)

2.10 Menghindari Segala Yang Menyibukkan Dan  Mengganggu Sahalat  Termasuk dalam lingkaran larangan itu, shalat di kala makanan sudah   dihidangkan; atau shalat di kala sedang menahan buang air kecil atau besar.  Nabi bersabda yang artinya:Janganlah salah seorang di antara kamu shalat, kala makanan   dihidangkan, atau kala menahan buang air.” (20Diriwayatkan oleh Muslim: 560, Ibnu Hibban: 195 dan al-Baghwi dalam “Syarhu as-  Sunnah”: 801.)

Diriwayatkan dalam hadits al-Bukhari dan Muslim: 558, bahwasanya Ibnu Umar pernah dihidangi makanan; saat itu adzan berkumandang, namun beliau  terus saja makan sampai selesai. Padahal beliau sudah mendengar suara bacaan  imam. Di antaranya yang lain: shalat di bawah terik matahari. ‘Dalam hal ini  Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: “Apabila matahari bersinar terik / panas sekali, tundalah waktu shalat hingga cuaca dingin. Karena sesungguhnya panas yang terik  itu berasal dari uap Narr Jahannam.”

Yang lainnya lagi: memandang (ketika shalat) sesuatu yang merusak konsentrasi.  Dari Anas diceritakan, bahwa Aisyah memiliki kain korden berhias yang menutupi sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah bersabda:  “Singkirkan korden itu, Sesungguhnya gambar-gambarnya itu terus  terbayang dalam diriku di waktu shalat.” (21HR. Al-Bukhari: 374 dan Ahmad: III/151 – 283)

Imam Ash-Shan’ani berkomentar:   “Sesungguhnya hadits itu mengandung larangan terhadap segala hal      yang dapat mengganggu shalat. Baik itu ukiran-ukiran, hiasan-hiasan   dan lain-lain.

2.11 Memanjangkan Bacaan.   Memanjangkan bacaan surat dalam shalat, seringkali membantu proses      kekhusyu’an, terutama bagi yang mengerti kandungan makna bacaan itu, atau bagi orang yang dianugerahi Allah kelembutan jiwa.  Rasulullah pernah ditanya: “Shalat bagaimana yang paling     utama?” Beliau menjawab: “Yang panjang qunut/kekhusu’an nya.”  Imam Ibnul `Arabi menyatakan:  “Aku mencoba menyelidiki sumber-sumber kekhusyu’an; lalu kudapati ada  sepuluh perkara:

Ketaa’atan, ibadah, kesinambungan melakukan amal shalih, shalat, bangun malam, berdiri panjang (dalam shalat), berdoa, ketundukan, diam tenang, dan tidak menoleh-noleh. Kesemuanya adalah alternatif  yang saling terkait. Namun yang paling berpengaruh adalah:  ketundukan, berdiam diri dan bangun malam.” (Lihat “Al-‘Aridhah”)

2.12 Hendaknya kita shalat, seperti shalatnya orang yang  akan bepergian jauh (meninggalkan alam fana)  Rasulullah pernah menegaskan: “Apabila engkau melakukan shalat, maka shalatlah kamu, dengan      shalatnya orang yang akan meninggalkan alam fana…” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah: 4171, Ahmad: 5/412 dan dihasankan oleh al-Albani dalam  “Shahih aljami’ ash-Shaghir”: 1/265.)

Yang dimaksud, agar kita shalat dengan shalatnya orang yang rindu untuk  berjumpa Allah. Bukan shalatnya orang yang gila dunia, yang menjadikan dunia     dan segala kesibukannya sebagai bayangan yang selalu terukir dalam benak.

Masih ada juga beberapa kiat khusyu’lainnya dalam shalat. Cukup dikutip sebagian di antaranya; sekedar untuk memacu dirt kita agar memperbaiki  kualitas shalat kita.  Menghiasi dan menyempurnakannya dengan kekhusyu’an; sehingga pada akhirnya, akan menjadikan kita sebagai mukmin yang penuh keberuntungan,  dunia dan akhirat. Lalu, kita berdoa kepada Allah agar kita dijauhkan dari  mereka yang disebutkan dalam rman Allah: “Maka sungguh satu kecelakan yang besar bagi meraka yang telahmambatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam  kesesatan yang nyata:” (az-Zumar: 22).*******

 

 

This entry was posted in Arsip, Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s