Sudah beragamakah kita

Oleh Abu Sangkan

Pada hemat saya, Anand Krishna hanya berbicara salah satu aspek dari sekian banyak persoalan agama. Yaitu aspek rohani, lebih khusus lagi aspek orientasi kejiwaan. Dia lupa bahwa setiap aspek dalam masalah agama itu berkait erat dengan aspek-aspek yang lainnya. Ibarat badan manusia, kita tidak bisa mengatakan yang terpenting dari manusia adalah kenyang, atau yang paling penting pada diri manusia adalah kepalanya, atau yang terpenting dari manusia adalah pikirannya. Dalam hal ini Anand tidak mewakili cara berpikir universal, di mana dia terjebak hanya memikirkan satu aspek saja yaitu kejiwaan atau mencari kesadaran diri sejati. Menurutnya, kesejatian inilah yang menentukan semua sikap beragama.

Sesungguhnya, agama adalah tuntunan hidup bagi manusia. Karenanya, agama membicarakan persoalan kehidupan manusia secara lengkap. Ada tuntunan mengenai ketatanegaraan, bersekolah (menuntut ilmu), bertani, berpolitik, berkarya, berperang, hukum pidana, perdata, membuat roti, bercinta, mendidik anak, berfilsafat, dan sebagainya, termasuk juga tentunya kerohanian (sufistik). Dalam konteks kesempurna-an agama, Anand lebih tepat dipandang sebagai ahli kejiwaan (mungkin cocoknya sebagai dosen filsafat), di mana dia hanya berbicara soal kaitan manusia dengan Tuhan. Artinya Pak Anand hanya membicarakan salah satu dari sekian banyak ajaran agama. Menurut saya, cara memandang agama hanya dari satu sudut saja jelas terlalu sempit. Sebab, dengan cara pandang seperti itu kita hanya akan menguasai pengetahuan agama secara parsial saja. Misalnya, ahli syariat saja (fiqih), tanpa mengenal apa itu tasawuf. Atau ahli tasawuf, tapi tak mengenal hukum-hukum agama. Atau ahli membaca Alqur’an tanpa tahu makna dan kedalaman ayat-ayat Alqur’an. Atau menjadi seorang yang manguasai ilmu tauhid, tapi sama sekali tak mengerti hakikat.

Padahal, cara pandang semacam itulah yang melahirkan sekte-sekte yang berpandangan sempit dan dengan fanatisme berlebihan yang (tak jarang) membabi buta. Bukankah kita mengenal adanya aliran-aliran dalam Islam, yang hanya mengutip ayat-ayat Alqur’an atau hadist yang sesuai dengan kepentingannya saja? Tentu, Anda tak ingin terjebak pada pemahaman sempit semacam itu. Setiap aspek dalam Islam tak bisa dipahami sepotong-sepotong. Sebagai contoh, ada sabda Rasulullah yang bunyinya, “Belajarlah kalian sebanyak-banyaknya, sebab tidurnya orang yang pintar merupakan ibadah.” Atau sabda Rasulullah yang lain, yakni, bahwa berjalannya seseorang menuju suatu majlis ilmu akan dihitung pahalanya langkah per langkah oleh Allah.

Kalau kita hanya mengacu kepada dua hadist itu ada dua kemungkinan yang timbul. Pertama, kita tak perlu menyimak pembicara pada ceramah agama, misalnya, karena toh “berjalan menuju majlis ilmu” saja sudah mendapat pahala, yang dihitung dari jumlah langkah kaki. Atau, kita menyimak dengan teliti, ditambah mempelajari hal-hal lain yang bermanfaat, setelah itu ya sudah. Tak perlu lagi pengamalan ilmu, toh “tidurnya orang yang pintar merupakan ibadah.”

Kalau kita jeli, tentu akan penasaran dengan kedua hadist itu. Apa artinya datang ke majlis ilmu, kalau di sana hanya ngaco, ngobrol ngalor-ngidul, bahkan mengganggu yang lain? Mungkinkah yang demikian tetap mendapat pahala dari hitungan langkah kaki? Bagaimana pula yang datang ke majlis ilmu untuk membubarkannya, apakah setiap langkahnya tetap mendapat pahala? Sementara itu, buat apa mempelajari ilmu kalau kemudian tak pernah diamalkan, hanya karena “tidurnya orang yang pintar merupakan ibadah”? Jelas, bagi yang teliti, jeli, dan kritis, tak akan cukup puas dengan kedua hadist itu.

Mereka yang penasaran, insyaallah akan menemukan hadist yang berbunyi, “Laksanakan sedikit pun tidak apa-apa, asal kontinyu.” Bahkan, berkat ketelitian dan kekritisannya, orang macam itu tentu akan menemukan hadist lain yang berbunyi “Dosa yang paling besar di sisi Allah, adalah kalian berbicara namun kalian sendiri tidak melakukannya.” Dengan demikian, rangkaian hadist tersebut, memiliki makna yang sangat jelas. Yakni, kita wajib menuntut ilmu, lalu laksanakan walaupun sedikit demi sedikit, kemudian kita harus mengamalkan ilmu yang kita miliki itu.

Itu hanya salah satu contoh, di mana masih banyak sekali contoh-contoh semacam itu. Yang jelas, Islam diturunkan sesuai kondisi masyarakat pada masa itu. Menyadari malasnya orang belajar, Rasulullah memotivasi dengan hadist-hadist yang ringan. Tentu, hadist terakhir hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah memiliki banyak ilmu.

Rasulullah berbicara secara fitrah (natural) kepada keadaan orang yang dihadapi. Bagaimana Rasulullah memandang seorang pelacur oleh Allah swt. dimasukkan kedalam surga karena perbuatan kerohaniannya yang tulus menolong seekor anjing yang kehausan. Ushlub naskah ini sangat terkait dengan persoalan seseorang yang sudah mencapai puncak ilmunya, di mana ilmunya tidak ada apa-apanya kalau tidak ada kasih sayang di dalam dirinya. Inilah yang dimaksud dengan bahasa balaghah. Kalau Anda perhatikan dalil-dalil di atas, sepertinya Anand termasuk orang yang kurang melihat keadaan atau kultur masyarakat secara umum. Dia hanya melihat dari kekecewaan pribadinya ketimbang berfikir universal. Masih terlalu kecil kalau kita berbicara sebuah ajaran, apalagi kesimpulan pribadi yang tidak memiliki landasan apa-apa seperti berada di atas awang-awang.

Ini menarik jika di bahas dalam sebuah forum khusus. Sebab saya kira tidak mungkin jika hal ini dibahas dalam forum tertulis, di samping saya kurang begitu mahir menulis, sesungguhnya saya juga tidak mau menyinggung masalah orang lain dalam forum ini.

Kepada Pak Anand, saya mohon maaf kalau kebetulan ada sedikit diskusi masalah pikiran / pendapat Anda. Terima kasih atas kebesaran jiwa Anda. Mudah-mudahan kita mendapatkan kasih sayang-Nya. Amin

This entry was posted in Abu Sangkan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s