Ontologi Ilmu

Oleh Abu Sangkan

Saya akan membahas alasan-alasan saya mengenai ilmu tafsir dan cara memahami ayat-ayat Alqur’an di dalam mengambil keterangan sebagai sandaran ilmu/referensi.

Bantahan saya atas tuduhan mengajarkan ilmu klenik dan mistik perdukunan, merupakan interaksi saya terhadap jamaah yang mengalami peristiwa yang mereka rasakan dan lihat, baik dalam dirinya maupun yang terjadi terhadap orang lain. Yakni, peristiwa yang sedang terjadi namun berupa sesuatu yang belum terjamah oleh kaum ilmuwan, seperti kejadian sihir, mayat hilang, badan menjadi lebih dari satu, rohani menembus alam-alam ghaib, serta berbagai fenomena psikokinetik, hipnotisme, telepati, magentisme, dan sensasi keimanan seperti kekhusyu’an, dll.

Walaupun kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena tersebut belum terjamah oleh ilmu pengetahuan modern, pada kenyataannya semua itu ada dalam kehidupan masyarakat dunia Timur maupun Barat, dan diakui keberadaanya oleh agama – termasuk agama-agama di luar Islam. Di kalangan jamaah dzikrullah saya sekedar mediator yang menanggapi tentang permasalahan yang mereka hadapi, untuk kemudian (mencoba) memberikan masukan data-data mengenai hal itu kepada mereka. Jawaban dan tanggapan yang saya berikan senantiasa mendasarkan kepada pengalaman, analisa dan data konkret yang ada pada naskah-naskah spiritual.- seperti naskah Ihya (Al Ghazali), Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim (tentang Roh), yang telah diakui oleh (hampir) seluruh kalangan ulama sampai sekarang.

Baiklah, saya akan menarik ke belakangan dulu, dengan membicarakan terlebih dahulu apa yang menjadi dasar orang berfikir sehingga menghasilkah sebuah ilmu pengetahuan. Hal ini yang akan kita pakai sebagai acuan dalam berfikir dan memperbandingkan cara pemikiran umum dan agama. Karena berfikir melalui otak berbeda dengan berfikir melalui rasa atau intuisi (hati/jiwa), yang di kalangan scientic tidak dimasukkan sebagai sumber analisa. Padahal dikatakan oleh Alquran, “memang hati mereka telah kami tutup hingga mereka tidak dapat memahaminya …” (QS Al Kahfi: 57). Menurut saya, jelas sekali ayat ini mengatakan bahwa yang difahamkan itu hatinya, bukan pikirannya (otaknya ). Marilah kita mulai dengan membahas mengenai “ilmu pengetahuan” (selanjutnya saya sebut ilmu saja). Apakah yang sebenarnya ingin diketahui oleh ilmu? Atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telaah ilmu? Bidang lain, seperti agama umpamanya, memasukkan ke dalam ruang lingkup pengkajiannya hal-hal yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia: apa yang terjadi sesudah manusia meninggal dunia. Padahal, sampai sejauh ini tak pernah ada seorang pun yang pulang kembali dari lubang kubur untuk menceritakan pengalamannya. Artinya, “pengalaman
meninggal dunia” secara sederhana dapat kita katakan sebagai sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Lalu bagaimana agama bisa dengan begitu “gamblang” membahas mengenai “segala-sesuatu setelah kematian”?

Sementara itu, sesuatu yang terjangkau oleh fitrah pengalaman manusia disebut empiris, yakni fakta yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan
mempergunakan panca inderanya. Ruang lingkup kemampuan panca indera manusia dan peralatan yang dikembangkan sebagai pembantu panca indera tersebut membentuk apa yang dikenal dengan dunia empiris. Berlainan dengan agama, atau bentuk-bentuk pengetahuan dunia ghaib lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat empiris ini.

Obyek penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Dalam batas-batas tersebut maka ilmu mempelajari obyek-obyek empiris saja, seperti batu-batuan, bintang, tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia itu sendiri. Ilmu mempelajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan obyek yang ditelaahnya maka ilmu dapat
disebut sebagai “suatu pengetahuan empiris, di mana obyek-obyek yang berada di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut”. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu, yakni, orientasi terhadap dunia empiris.

Sebagai sesama muslim, mari kita kaitkan konteks dasar sebuah ilmu dengan sumber dari segala sumber rujukan kaum muslimin, yakni, Alquran. Pada galibnya, dunia empirisme hanyalah sebagian kecil dari pengetahuan Alquran yang sudah dipelajari oleh sebagian manusia. Penyebabnya karena memang panca indera dan peralatan pembantunya hanya mampu mengamati barang yang empiris (nyata, dhahir), dan tidak mampu menangkap apa itu
intuisi, rasa, cinta, kasih sayang, apalagi fenomena ghaib seperti malaikat, jin, jiwa manusia, terlebih-lebih Tuhan. Dunia empiris lebih menonjolkan
rasionalitas, proses berpikir, otak, dan (hampir) selalu menafikan hal-hal yang bersifat intuitif, rasa, dan sejenisnya. Bahkan, banyak ilmuwan yang “membunuh rasanya sendiri”, misalnya dengan menganggap orang yang mengetahui kasyaf (intuisi) sebagai perbuatan klenik.

Pernyataan atau tuduhan seperti ini bisa saya maklumi karena alat-alat yang difungsikan oleh ilmuwan seperti itu kurang satu, yaitu, rohani, emosi jiwa. Padahal, emosi jiwa (ternyata) lebih cerdas daripada pikiran (otak) – sekarang mulai mendapat pengakuan, seiring dengan munculnya istilah “kecerdasan jiwa”. Kenapa? Sebab pikiran sudah dibelenggu oleh batasan aturan berfikir, tidak semerdeka orang yang menggunakan alat rohani yang tinggi. Contoh “belenggu pikiran” adalah adanya dimensi ruang dan waktu. Tentu otak, yang sudah dibelenggu oleh pola seperti itu, sulit menerima
cerita bahwa seorang kiai di Jawa Timur, bisa dalam hitungan menit masuk ke kamar dan begitu keluar membawa buah kurma yang masih segar – lengkap dengan tangkai dan daunnya yang masih meneteskan getah. Tentu otak akan mengatakan bahwa di belakang kamar ada pohon kurma, atau kalau kemudian tak diketemukan pohon kurma si rasional, akan mengatakan klenik, sihir, dan sebagainya.

Contoh yang lain adalah Umar bin Khattab, orang yang memiliki ilmu mukasyafah, yang mampu melihat kejadian akan datang, sehingga oleh Rasululah SAW disebut Al Muhaddatsun. “Di antara umat-umat sebelum kalian telah ada muhaddatsun. Kalaupun ada seorang di antara umatku yang seperti itu maka dialah Umar bin Khattab. (Muttafaqun alaihi/shahih). Bagaimanakah penjelasannya secara rasional? Tentu para rasionalis akan sulit
menerima fakta semacam itu, ya karena pola pikirnya sudah terbelenggu oleh tuntutan empirik. Akibat kungkungan pola pikir yang selalu menuntut penjelasan hukum sebab-akibat, penjelasan rasional, bukti-bukti, itu tak jarang para ilmuwan kurang memahami (untuk tak mengatakan buta) atas pengetahuan ini.

Pada hemat saya, para ilmuwan yang seharusnya lebih berfikir universal tidak selayaknya menganggap sebuah peristiwa ataupun fenomena kejiwaan itu adalah klenik bahkan mistik. Akan lebih bijaksana kalau mereka menyatakan sebagai sesuatu yang “belum bisa dibuktikan secara ilmiah” ketimbang langsung menuduh sebagai klenik dan mistik. Bukankah dahulu ledakan petir dianggap orang sebagai sebuah peristiwa sakral yang dikaitkan dengan mitos dewa-dewa? Lalu kenapa setelah Thomas Alfa Edison mengungkapkannya secara rasional manusia malah menjadikannya sebagai sesuatu yang
bermanfaat? Yakni, menjadikan dunia terang benderang oleh cahaya lampu yang terbuat dari bola kaca dan di dalamnya terdapat serat karbon.

Mari kita bahas mengenai bola-bola kaca “bersinar” yang dipasang di rumah-rumah tersebut. Bola-bola kaca itu dihubungkan oleh kawat-kawat yang disembunyikan, sehingga orang tak mengetahui bahwa bola-bola kaca itu telah membentuk rangkaian listrik yang kemudian dihubungkan dengan satu tombol listrik. Kalau Edison tidak dapat menjelaskan cara bekerjanya rangkaian listrik yang membuat bola-bola kaca itu bercahaya, bisa dipastikan dia dianggap sebagai tukang sihir. Tetapi karena dia dapat menjelaskan cara kerja rangkaian listrik tersebut melalui penjelasan yang dapat dimengerti oleh akal sehat – kendati bentuk elektronen itu tidak tampak mata (ghaib) -maka status dia bukan sebagai tukang sihir melainkan seorang ilmuwan yang dengan usaha akalnya dapat menemukan cara lampu listrik menyala.

“Hanya” karena yang tadinya dianggap klenik dan ajaib itu ternyata sebuah peristiwa loncatan listrik yang bisa dijelaskan secara rasional, kini semua itu tak lagi dianggap ghaib. Mengapa Anda menutup kemungkinan-kemungkinan bahwa sesuatu yang (sekarang masih) dianggap ghaib ternyata sesuatu yang nyata? Bukankah di dalam Alquran begitu banyak rahasia-rahasia ilmu itu yang belum terungkap? Fenomena Jin Ifrid membawa singgasana Ratu Bilqis dalam sekejap dan hamba Allah yang alim melebihi kecepatan Jin tersebut dalam hal ini (QS Al Ankabut: 39-40). Bukankah rahasia Mi’raj juga merupakan renungan kita semua? Kalau dasar ontology ilmu yang Anda gunakan hanya menggunakan lima alat (panca indera) saja untuk meneliti, bagaimana Anda akan memahami yang lebih jauh dari sekedar pengetahuan bersifat fisik/kasat mata? Mengapa hal itu tidak Anda jadikan sebagai sebuah inspirasi untuk meneliti seperti apa yang dilakukan Sigmund Freud (tentang jiwa), Thomas Alfa Edison, Ibnu Sina (kedokteran), Al Farabi, dan seterusnya?.

Kalau Anda sudah keburu sinis terhadap fenomena atau peristiwa yang terjadi, bagaimana Anda akan bisa menjadi ilmuwan yang sejati? Sebagai seorang mahasiswa S3 di bidang science engineering saya anjurkan Anda memiliki watak universal, mulai membuka cakrawala berpikir, dan jangan membelenggu pikiran Anda dengan batasan-batasan yang dibuat sendiri. Seorang peneliti mestinya bukanlah orang yang takut terhadap kejadian atau fenomena yang terjadi pada alam walaupun itu sambaran petir sebesar rumah dan suaranya mengguntur bagaikan suara raksasa. Justru jiwa universal akan tergugah untuk mengamati apa sebenarnya yang terjadi dan dari mana asal kejadian itu.

Coba tempatkan diri Anda pada ribuan tahun yang lalu, seolah-olah Anda hidup di zaman Razulullah SAW. Apa komentar Anda jika ketika itu Anda melihat sebuah robot yang digerakkan secara elektronis melalui remote control (sesuatu yang saat ini, dengan S3 science engineering Anda, bisa Anda buat). Mungkinkah Anda langsung mengatakan bahwa itu hanya peristiwa listrik yang dipadu dengan peristiwa mekanik, digerakkan oleh motor, dan seterusnya? Tidakkah Anda akan terbengong-bengong, takjub, dan menyatakannya sebagai sihir, klenik, mistik, digerakkan oleh jin, dan sebagainya? Lalu kenapa sekarang robot tersebut sebagai sesuatu yang biasa, tidak aneh, dan dapat dijelaskan secara ilmiah? Itulah perkembangan berpikir, itulah sebuah bukti relativitas kesimpulan dalam sebuah ilmu pengetahuan (akan saya jelaskan di bawah).

Islam sendiri telah mengajarkan filsafat ilmu yang menghendaki agar umatnya menjadi peneliti (intidzar) terhadap berbagai fenomena alam maupun fenomena yang dikandung dalam dirinya (manusia). Hal itu terungkap dalam firman Allah: “Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intidzar apa-apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS Yunus: 101). Lalu dilanjutkan dalam QS Adz Dzariyaat 21: “dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?”

Ciri khas nyata dari ilmu pengetahuan yang tidak dapat diingkari – meskipun oleh para ilmuwan – adalah bahwa ia tidak mengenal kata “kekal”. Apa yang dianggap salah di masa silam misalnya, dapat diakui kebenarnnya di abad modern. Pandangan terhadap persoalan-persoalan ilmiah silih berganti, bukan saja dalam lapangan pembahasan satu ilmu saja, tetapi terutama juga dalam teori-teori setiap cabang ilmu pengetahuan. Dahulu, misalnya, segala sesuatu diterangkan dalam konsep material sampai-sampai manusia hendak dikategori-kan dalam konsep tersebut. Sekarang kita dapati psikologi yang membahas mengenai jiwa, budi dan semangat, telah mengambil tempat tersendiri dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dahulu persoalan moral tak mendapat perhatian ilmuwan, tetapi kini penggunaan senjata-senjata nuklir, misalnya tidak dapat
dilepaskan dari persoalan tersebut. Mereka tidak mengabaikan moral dalam penggunaan senjata nuklir yang merupakan hasil dari kemajuan ilmu ;pengetahuan.

Teori-teori ilmiah bermunculan juga silih-berganti. Yang dahulu dianggap pasti, bisa jadi sekarang ini hanya dinilai sebagai ikhtisar dari pukul rata
statistik. Teori bumi datar yang merupakan satu hukum aksioma di satu masa, misalnya, dibatalkan oleh teori bumi bulat yang kemudian dibatalkan pula oleh teori lonjong seperti lonjongnya telur. Mungkin tidak sedikit orang yang yakin bahwa pertimbangan-pertimbangan logika atau ilmiah – terutama menurut ilmu pasti – adalah benar, namun (kemudian) kenyataannya belum tentu demikian. Salah satu sebab dari kesalahan (baca: ketidakpastian dalam ilmu pasti) ini adalah kerena titik tolak dari pemikiran manusia dalam bidang ilmiah semata-mata berdasarkan panca indera atau perasaan umum. Perasaan umumlah yang, misalnya, menyatakan bahwa sepotong baja adalah padat (pejal), padahal sinar ultraviolet memperlihatkan bahwa ia berpori-pori.

Karenanya tak heran kalau Imam Al Ghazali pada suatu masa hidupnya tidak mempercayai indera. Beliau menulis dalam kitabnya Al Munqidz min Al Dhalal:

“Bagaimana kita dapat mempercayai panca indera, di mana mata merupakan indera terkuat, sedangkan bila ia melihat ke satu bayangan dilihatnya berhenti tak bergerak sehingga dikatakanlah bahwa bayangan tak bergerak. Tetapi dengan pengalaman dan pandangan mata, setelah beberapa saat, diketahui bahwa bayangan tadi dikatakan tak bergerak sebenarnya bergerak – hanya bukan disebabkan pergerakan spontan tetapi sedikit demi sedikit sehingga ia sebenarnya tak pernah berhenti. Begitu juga mata memandang kepada bintang, ia melihatnya kecil bagaikan lampu lilin yang berkedip-kedip, akan tetapi alat membuktikan bahwa bintang lebih besar dari pada bumi.”

Segala undang-undang ilmiah yang diketahui hanya menyatakan saling bergantinya psychological state (keadaan-keadaan jiwa) yang ditentukan pada diri kita oleh sebab-sebab tertentu. Ini menunjukkan bahwa segala undang-undang ilmiah pada hakikatnya relatif dan subyektif. Dari sini jelas bahwa ilmu pengetahuan hanya melihat dan menilik, bukan menetapkan. Ia melukiskan fakta-fakta, objek-objek dan fenomena-fenomena yang dilihat dengan mata seorang ilmuwan yang mempunyai sifat pelupa, keliru, dan ataupun tidak mengetahui. Karenanya jelas pulalah bahwa apa yang dikatakan orang sebagai sesuatu yang benar (kebenaran ilmiah) sebenarnya hanya merupakan suatu hal yang relatif dan mengandung arti yang sangat terbatas sehingga secara otomatis tafsir atau ta’wilnya akan berubah menurut perkembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi lafadz-lafadz Alqu’an tetap
abadi — walaupun makna setiap orang dan zaman akan berbeda .

Setiap muslim termasuk saya, dapat mengeluarkan pendapatnya mengenai ayat-ayat Alqur’an, dengan memenuhi syarat yang dibutuhkan. Sebagai muslim saya memahami Alqur’an, karena ayat-ayatnya tidak diturunkan hanya untuk orang-orang Arab dan di zaman Rasulullah SAW dahulu saja, juga bukan dikhususkan untuk mereka yang hidup di abad ini. Mereka semua diajak berdialog oleh Alqur’an, diperintahkan untuk memikirkan isi Alqur’an sesuai dengan akal pikiran mereka. Akan tetapi cara penggunaannya berbeda antara seseorang dengan lainnya yang disebabkan oleh perbedaan mereka sendiri baik dari sisi latar belakang pendidikan, pelajaran, kebudayaan, maupun pengalaman-pengalaman yang dialami selama hidupnya.

Tetapi berfikir secara kontemporer tidak berarti menafsirkan Alqur’an sesuai dengan teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan baru. Kita dapat menggunakan pendapat para ulama, cendekiawan, hasil percobaan dan pengalaman para ilmuwan, mengasah otak dalam membantu mengadakan ta’ammul dan tadabbur dalam membantu memahami arti ayat-ayat Alqu’an tanpa mempercayai setiap hipotesis atau pandangannya. Setiap ayat bisa dipahami berbeda pada setiap zaman dan perorangan, karena latar belakang pengalaman dan ilmu serta budaya. Seperti kata turab pada surat Al Hajj: 5, arti lafadznya adalah debu, bagi umat zaman itu (zaman Rasulullah SAW) debu adalah debu seperti yang kita lihat sekarang di jalanan itu. Akan tetapi makna itu berubah menjadi lain, manakala manusia mulai mengenal data ilmu pengetahu-an lebih dari sebelumnya: ternyata debu yang pada masa itu itu hanyalah bentuk sesuatu benda bersifat seperti debu (bubuk) bagi pikiran orang sekarang debu itu maksudnya adalah zat renik.

Demikian juga dengan firman Allah, “Dia menciptakan manusia dari tanah liat yang kering seperti tembikar” (QS Ar Rahman:14). Kalau melihat arti sebenarnya bagi orang dahulu bisa jadi manusia itu benar-benar terbuat dari tembikar seperti patung tembikar dari Pleret, kemudian di beri ruh. Itupun tidak disalahkan karena memang pengetahuan masa itu sampai di situ, tetapi tidak mengubah lafadz Alqur’an. Biarkan lafadz itu bercerita kepada siapa saja yang membacanya dan pengertiannya tergantung ilham itu turun melalui jiwanya.

Ada pula lafadz: “Manusia diciptakan dari air yang memancar.” Air ya air, benda yang berbentuk cair, bahwa itu disebut “air yang memancar”, pada zaman itu mereka tetap hanya membayangkan sebagai air. Bandingkan dengan masa kita sekarang, di mana pengertian “air yang memancar” langsung mengarahkan kita kepada bayangan mengenai air mani lengkap dengan spermatozoanya. Juga pada arti zarrah – maksudnya adalah benda yang sangat kecil. Mufassir masa itu memberikan pengertian terhadap benda terkecil adalah biji sawi, karena yang diketahui tentang benda terkecil itu adalah biji sawi, berbeda dengan pengetahuan masa sekarang benda terkecil masa sekarang ditemukan adalah atom – di mana mungkin juga bisa berubah lagi di masa mendatang sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.Namun demikian, kendati pengertian zarrah senantiasa berubah sesuai perkembangan pengetahuan manusia namun maknanya tetap sama: benda terkecil. Begitulah terus-menerus sehingga Islam disebut agama sepanjang zaman dan kekal.

Perlu kiranya dipertimbangkan tentang perkembangan arti dari suatu kata. Sebab ketika mendengar atau mengucapkan suatu kata yang tergambar dalam benak kita adalah bentuk material atau yang berhubungan dengan materinya. Namun, di lain segi, bentuk materi tadi dapat mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, kata “lampu”. Bagi masyarakat tertentu lampu berarti suatu alat penerang yang terdiri dari wadah yang berisi minyak dan sumbu yang dinyalakan dengan api. Namun apa yang tergambar dalam benak kita dewasa ini tentang gambaran material tersebut telah berubah. Yang tergambar dalam benak kita kini adalah bohlam (bola lampu listrik).

Inilah yang dikatakan bahwa Alqu’an berbicara kepada siapa saja dari zaman ke zaman dan.bersifat universal. Apa jadinya kalau kita harus mengikuti tafsiran orang-orang masa lalu yang pengetahuannya sampai di situ sehingga pikiran dan pengetahuan tentang makna sesuatu tidak berkembang seperti apa yang telah saya uraikan di atas. Bisa jadi Alqur’an menjadi kitab usang dan mati, astaghfirullah. Adapun jika pandangan saya terhadap sesuatu itu berubah, hal itu tidak mengubah kata-kata firman (lafadz Alqur’an). Yang berubah itu makna setiap orang tentang anggapan kata yang dimaksud secara dimensional.

Baiklah, kini saya akan mengantar Anda untuk memahami Alqur’an agar Anda tidak salah faham terhadap pandangan saya mengenai memaknai ayat-ayat.

Kita harus bisa membedakan antara tafsir dan ta’wil. Menurut Shahibut Taujih, Thahir Al Jazairi: tafsir, pada hakikatnya ialah mensyarahkan lafadz yang sukar difahamkan oleh pendengar dengan uraian yang menjelaskan maksud. Yang demikian itu adakalanya dengan menyebut muraddif (persamaan)-nya, atau yang mendekatinya, atau yang mempunyai petunjuk kepadanya melalui sesuatu jalan dalalah (petunjuk). Menurut Al Jurjany, tafsir pada asalnya ialah membuka dan melahirkan. Pada istilah syara’ ialah mejelaskan makna ayat, urusannya, kisahnya dan sebab yang karenanya diturunkan ayat. Dengan lafadz yang menunjuk kepadanya secara langsung tafsir menghendaki keaslian maksud sesuai dengan sebab-sebab nuzulnya.

Sedangkan ta’wil ialah mengembalikan sesuatu kepada ghayah-nya, yakni menerangkan apa yang dimaksud dari padanya. Menurut As Said Al Jurjany, ta’wil ialah memalingkan lafadz dari makna yang dhahir kepada makna yang muhtamil (yang dikandung), apabila makna yang muhtamil itu tidak berlawanan dengan Alqur’an dan As Sunnah. Sementara itu Ar Raghib Al Asfahany menganggap bahwa tafsir lebih umum daripada ta’wil. Tafsir lebih dipakai mengenai kata-kata tunggal, sedang ta’wil lebih banyak dipakai dalam kaitan makna dan susunan kalimat. Tafsir menerangkan makna lafadz yang tidak menerima selain dari satu arti. Ta’wil menetapkan makna yang dikehendaki oleh sesuatu lafadz yang dapat menerima banyak makna, lantaran ada dalil-dalil yang menghendaki.

Dalam penjelasannya Al Maturidy menyatakan bahwa tafsir ialah menetapkan apa yang dikehendaki oleh ayat (lafadz) dan dengan sungguh-sungguh menetapkan: demikianlah yang dikehendaki Allah. Maka jika ada dalil yang membenarkan penetapan itu, dipandanglah sebagai tafsir yang shahih, sebaliknya kalau tidak dipandanglah sebagai tafsir yang berdasar fikiran yang tidak dibenarkan. Sementara ta’wil ialah mentarjihkan salah satu makna yang mungkin diterima oleh ayat (lafadz), yakni salah satu muhtamilat, dengan tidak meyakini bahwa demikianlah yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah (mengakui makna sifat relatif – karena pengetahuan manusia berubah-rubah dan berbeda-beda setiap orang dan zaman).

Sebenarnya saya tidak menafsirkan Alqur’an didalam mendukung pendapat saya mengenai makna spiritual. Akan tetapi memahami secara ilmu atau mendekatkan analogi ilmu sebagai perbandingan sesuatu yang terjadi.

Kerohanian diannggap Mistik dan klenik ??

Saya akan menanggapi pernyataan Anda terhadap peristiwa yang dialami oleh rekan yang telah mengajukan pertanyaan terhadap saya mengenai shalat khusyu’. Anda menghendaki jalan syariat dan akidah yang benar, namun tidak ingin melihat fenomena kejiwaan orang yang khusyu’, yaitu merasa bergetar hatinya lalu menangis, setelah itu perubahan yang di alaminya adalah kelembutan jiwanya, kehalusan rasanya, tidak ada kesombongan dalam hatinya, serta hatinya tak henti-hentinya menyebut nama Allah – bukan karena fikirannya akan tetapi mengalir melalui jiwanya.

Anda mengatakan shalat khusyu’ harus ada ilmunya? Maaf, Anda keliru besar. Khusyu’ itu sendiri bukanlah sebuah ilmu tetapi keadaan atau pengalaman, seperti iman dan taqwa. Karena ketakwaan dan keimanan serta kekhyu’an merupakan karunia dan bimbingan dari Allah, maka shalat khusyu’ tidak termasuk dalam sebuah PERINTAH dan LARANGAN. Untuk memahami ini Anda harus mengerti uslub dalam Alqu’an agar tidak memandang sempit arti Islam.

Saya akan sebutkan contoh, misalnya begini, Anda mampu mengurai sebuah reaksi kimia sehingga menjadi sebuah gula. Tetapi Anda tidak akan mampu membuat rasa manis yang dikandung gula tersebut. Bahkan kadang Anda sendiri belum tentu merasakan rasa manis pada gula sehingga Anda tidak merasakan sensasi enak pada lidah dan pikiran – misalnya ketika lidah kena sariawan atau karena penyakit lainnya.

Baiklah agar Anda tidak bingung, saya akan sebutkan beberapa uslub Alqu’an dalam menyuruh (al amr) dan melarang (an nahy). Alqu’an tidak hanya memakai satu macam uslub dalam menyuruh, melarang dan memberikan hak hamba memilih, dan menjelaskan keadaan (hal/kondisi). Seperti pada kalimat perintah (amar), menyuruh dengan terang memakai kata suruhan seperti firman Allah: “Bahwasanya Allah menyuruh kita berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberikan belanja kepada kerabat.” (QS. An Nahl: 90). Juga pada ushlub larangan, memakai mudhari’ yang didahului oleh larangan, atau fi’il amar yang menunjukkan kepada larangan, seperti: “Tinggalkanlah olehmu dosa yang nyata dan dosa yang tersembunyi.” (QS Al An’am:120) .

Pada kedua uslub di atas Anda sering mendengarkan dengan jelas dan mengerti maksudnya sehingga Anda memaksakan diri untuk meninggalkan atau mengerjakan apa yang tercantum dalam ayat-ayat tersebut. Akan tetapi bagaimana sikap kita kepada ushlub yang menjelaskan keadaan atau pengalaman/kondisi seseorang misalnya pada firman Allah sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhannya mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfaal: 2 ). Juga pada ayat-ayat di bawah ini:

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti ( yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak dia menemui kesesatan.” (QS Maryam: 58-59 )

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Az Zumar: 22).

“…gemetar karenanya kulit (fisik) orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit (fisik) dan hati mereka di waktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS Az Zumar: 23)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusu’ dalam shalatnya.” (QS Al Mu’minun: 1-2).

Pada uslub ayat di atas tidak ada kalimat perintah maupun larangan, akan tetapi merupakan keterangan dan pengalaman seseorang ketika mendapatkan karunia dari Allah. Karena itu merupakan rahmat Allah maka tidak akan masuk kepada hati orang yang kasar dan sombong serta merasa paling pintar, seperti diungkapkan pada surat Maryam 58-59, dikatakan bahwa mereka tidak akan mendapatkan karunia atau nikmat iman seperti menangis serta bersungkur tatkala disebut nama Allah, disebabkan di hatinya ada kesombongan dan memperturutkan hawa nafsu. Keadaan
seperti digambarkan ayat-ayat di atas tersebut tidak akan bisa dibuat-buat, misalnya memaksakan diri untuk menangis, pura-pura khusyu’, pura-pura cinta, dan sebagainya, karena semua itu adalah hasil dari kedekatannya kepada Allah, dari jerih payahnya ketika malam bertahajjud, berdzikir. Akan tetapi hal ini tidak akan diperoleh kalau pelaksanaan tahajjud, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya itu tak dibarengi dengan hati yang bersih. Bukan memakai pemikiran,akan tetapi menggunakan jiwa yang tenang – karena Tuhan tidak memanggil “wahai pikiran yang tenang” tetapi”wahai jiwa yang tenang” (yaa ayyatuhan nafsul muthmainah).

Pengalaman rekan-rekan itu telah dibenarkan oleh Alqu’an, bukan oleh Abu Sangkan. Karena hal (kondisi hati) mereka benar-benar merasakan ketenangan yangsangat luar biasa..bahkan sering menangis ketika shalat, merasakan keheninganhati disetiap saat seraya berucap Allah … Allah … Allah, kadang muncul subhanallah … subhanallah dan laailaha illallah … laailaha illallah, terus tanpa berhenti dan mereka merasakan nikmat dan damai yang amat sangat. Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW sebagai lazzatul iman.

Pada surat Az Zumar 23 dikatakan orang yang takut kepada Allah serta berdzikir kepada Allah fisiknya akan mengalami sensasi bergetar kemudian mengalami proses ketenangan secara fisik dan hatinya, dan ditegaskan pada akhir ayat,. “… itulah petunjuk Allah…”, bukan mistik seperti apa yang Anda tuduhkan.

Saya akan perkuat mengapa mereka mendapatkan tuntunan dan sensasi rasa yang berpengaruh kepada mental mereka (muncul kasih sayang, mudah menangis ketika disebut nama Allah, shalat semakin nikmat dan hati menjadi sangat tenang). Yakni, karena hati mereka telah mendapatkan petunjuk dari Rabbnya.

Firman Allah: “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, tentu Dia akan menunjuki ‘hatinya’ dan Tuhan Maha mengetahui segala-galanya.” ( QS At
Taghabun:11). “Keimanan telah ditetapkan Allah kedalam hatinya serta dikokohkan pula Ruh dari diri-Nya.” (QS Al Mujadilah: 22). “Dan Kami tunjang pula mereka dengan petunjuk, dan Kami teguhkan hati mereka.” (QS Al Kahfi: 13-14). “Dialah yang telah menurunkan ketentraman di dalam hati orang-orang yang beriman supaya bertambah keimanannya di samping keimanan yang telah ada.” (QS Al Fath: 4).

Kiranya cukup Allah saja yang menilai getaran cinta mereka dan diakui oleh-Nya, kita hanya menelaah dengan ayat-ayat-Nya sebagai katalisator diterima atau tidaknya ibadah kita.

Ayat-ayat ini sebenarnya merupakan ukuran atau cermin buat kita, bukan diperdebatkan, sudahkah bergetar hati kita tatkala disebut nama Allah, sudahkah kita menangis ketika shalat, sudahkah kita mendapatkan ketenangan jiwa ketika berdzikir kepada Allah. Padahal semua yang tersebut di atas merupakan ciri-ciri orang beriman. bahkan secara tegas Alqu’an mengatakan, bagi yang tidak mendapatkan karunia itu termasuk orang yang merugi bahkan tersesat. Di dalam surat Al Anfaal ayat 2 didahului kalimat innama, yang menunjukkan bahwa orang yang tidak bergetar hatinya ketika disebut nama Allah tidak dikatakan beriman. Sebab, iman itu muncul dari hati, bukan dari pikiran sebagaimana dilukiskan dalam sanggahan Allah terhadap orang Arab Badwi yang mengaku beriman ternyata menurut Allah mereka belum beriman karena iman belum masuk kedalam hatinya.

“Orang-orang Badwi itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk’ karena iman itu belum masuk kedalm hatimu …” (QS Al Hujuraat: 14). Dalam ayat ini dikatakan walakin quuluu aslamna, akan tetapi katakanlah “kami baru berislam” (aslamna), walamma yadkhulil iman fi qulubikum, sebelum iman itu masuk kedalam hatimu …….

Demikian pandangan saya mengenai Alqur’an yang suci dan abadi, merupakan sebuah rujukan yang penuh inspirasi untuk memacu kreatifitas berfikir (afala tatafakkarun), kreatifas meneliti (afala tubshirun), dan kreatifitas akal (afala ta’qilun).

Semoga Allah memaafkan kita semua dan membimbing hati kita untuk memahami ayat-ayatnya baik yang tertulis ( kauliyah) maupun ayat yang tak tertulis ( kauniyah/ ciptaan-Nya)……amin

This entry was posted in Abu Sangkan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s