Acara dalam Pengajian

Oleh Abu Sangkan

Yang namanya pengajian seharusnya pelajarannya tidak itu-itu saja. Dari judulnya saja sudah bertentangan dengan isinya yaitu PENGKAJIAN dimasyarakatkan menjadi pengajian. Makna ini sebenarnya dari etos belajar yang digagas oleh Alqur’an, yaitu mengkaji, meneliti, menganalisa, dan memperhatikan peristiwa-peristiwa / fenomena alam maupun dirinya sendiri, akan tetapi jika kita mendengar judul pengajian, pikiran kita pasti tertuju dengan suasana riungan jamaah dengan membawa buku kecil membaca shalawat, membaca Yasin dan membaca syair Al barzanji, lalu di isi dengan ceramah monolog.

Saya pernah menghayalkan begini, seandainya ibu-ibu atau nenek-nenek itu di ajak mengaji dengan tema-tema seperti di kampus-kampus dan seminar-seminar, lokakarya dll. – alangkah senangnya kita melihat nenek-nenek muslimah siang-siang berdiskusi membahas masalah sosiologi, psikologi, pendidikan anak, langkah-langkah membenahi ekonomi keluarga disamping menggali makna Alqur’an dan Al hadist – mungkin akan lebih bermanfaat untuk generasi Islam.

Selama ini pengajian dilingkungan kita identik dengan shalawatan, Yasinan, barzanjian, dan mengulang-ulang acara itu menjadi bacaan wajib dan acara resmi perkawinan serta khitanan maupun kematian. Bukannya saya tidak setuju dengan perkumpulan jamaah tersebut, akan tetapi saya hanya tidak setuju dengan pelajaran yang tidak pernah berubah sejak sekian ratus tahun yang lalu, sehingga masyarakat Islam tidak berkembang karena tidak pernah diajak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan atau dikaji. Mungkin pendapat saya ini akan banyak ditentang oleh mereka, karena selama ini mereka telah terlanjur mengikuti guru-guru sejak nenek moyang dahulu, tidak bisa diganggu gugat. Sehingga saya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka, kecuali hanya diam sambil membenahi generasi selanjutnya…. Pada umumnya pengajian selalu membahas masalah-masalah akhirat seperti siksa neraka dan kenikmatan di syurga, atau berkisar persoalan fikih, seperti tata cara shalat dan bacaannya, masalah haji, puasa, dan tuntutan-tuntutan kewajiban yang lainnya. Terkadang terkesan islam itu jauh dan terpisah dari masalah kehidupan perdagangan secara praktis, masalah pertanian seperti bercocok tanam, pemupukan, cara mencegah hama wereng dan ulat penggerek, serta memandu pengusaha kecil serta memanfaatkan system zakat yang bersifat kerakyatan didalam mengentas kemiskinan dll. Karena itu dianggap bukan urusan agama, sehingga ketika disebut kantor KUA (Kantor Urusan Agama) pikiran anda langsung membayangkan kalau menikah dan bercerai berurusan dengan kantor ini.

Saya sangat setuju jika pengajian sekarang bertema “selamat datang para peserta pengkajian (pengajian) agrobisnis dan problematikanya”, “Peranan orang tua terhadap anak”, “Cara beternak Ikan hias Tawar”, “Olah nafas dan manfaatnya bagi kesehatan”. Di tulis diatas kain panjang empat meter kali delapan puluh sentimeter, di pasang di depan Masjid kita

Mungkin tema-tema diatas agak aneh bagi orang yang tidak mengerti maksud saya ini, pengajian kok membahas masalah agrobisnis, masalah ikan hias ! Pikiran seperti ini seharusnya kita luruskan agar Islam tidak menjadi rancu dan sempit. Orang-orang islam akan mendapatkan manfaatnya dari kajian Alqur’an, yang di peruntukkan semua ummat baik orang islam maupun bukan islam.

Pengkajian berasal dari makna Alqur’an yang memotifasi orang-orang beriman untuk belajar dan meneliti apa-apa yang dilihat pada alam ini misalnya tanaman, tanah tandus, onta, angkasa, bintang, atom ( dzarrah) bulan, laut, ikan dll. seperti dalam firman Allah :

“Katakanlah (hai Muhammad) perhatikan dengan intidhzar apa-apa yang ada dilangit dan di bumi.” (QS. Yunus: 101)

“Maka apakah mereka tidak melakuan intidhzar dan memperhatikan onta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana di tinggikan. Dan gunung-gunug bagaimana mereka di dirikan. Dan bumi bagaimana dibentangkan, maka berilah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan.” (QS. Al Ghasyiyah: 17-20)

“Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tanaman zaitun, korma, anggur dan segalam macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berfikir.” (QS. An Nahl : 12)

Intidhzar berasal dari kata nadhzara, artinya melihat atau memperhatikan. kemudian akrab dengan makna sifatnya yaitu mengkajian, penelitian. Alangkah dangkalnya kata kajian berubah menjadi membaca syair dan mengulang-ulang bacaan Yasin yang tidak memberikan kedalaman makna Ayat tersebut secara langsung kepada masyarakat yang bersifat luas. Akan tetapi jika kita menganalisa dan meneliti apa-apa yang terjadi pada diri kita maupun terhadap alam, maka akan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh semua kalangan baik orang-orang muslim maupun orang-orang di luar muslim, karena Alqur’an bersifat Universal. Dan kandungan Alqur’an hampir tujuh puluh persen menceritakan tentang fenomena alam baik alam manusia alam jin alam malaikat, sisanya mengenai sejarah perbakala, perjuangan, tata hukum negara, dll

Kalau saya ambil satu contoh ayat yang menjelaskan bahwa Allah menumbuhkan pohon korma, tanaman zaitun, anggur dan segala macam buah-buahan. Dikatakan yang demikian itu merupakan kekuasaan Allah dan lebih tegas lagi Allah menyebutnya bahwa alam semesta merupakan ayat-ayat Allah yang tidak tertulis (kauniyah) berarti alam ini adalah firman Allah dan bersifat pasti (eksakta), dan Allah menunjukkan kepada kita agar dipikirkan dan di analisa untuk mengembangkan dan memelihara dengan ilmunya yang sudah dikandung di dalam hukum tanaman tersebut. Sebab Allah menciptakan tanaman sekaligus dengan manualnya sebagai petunjuk bagi si peneliti di dalam memahami karakter tanaman dan kemauan serta komposisi kimiawi yang di inginkannya agar tanaman itu bisa berkembang dengan baik dan berbuah lebat.

Semakin kita perhatikan dengan teliti, tanaman itu akan memberikan petunjuk akan dirinya kepada kita segala rahasia kandungan zat yang bermanfaat, kemudian kita teliti dari segi keindahan dan tekstur batang tanaman serta dedaunan yang hijau membuat kita tertarik untuk meletakkan dihalaman rumah dan di dalam ruangan agar kesegaran udara tercipta, karena zat asam yang tidak kita butuhkan di serap oleh daun-daun tanaman tersebut. Ketika kita melihat indahnya dan ranumnya buah yang dihasilkan tanaman tersebut, kita akan tergelitik untuk menawarkan kepada tetangga untuk mencicipi rasa buah itu, kemudian berkembang menjadi timbal balik dengan cara membelinya. Terjadilah peristiwa jual dan beli yang disebut perdagangan.

Dari proses berfikir dan memperhatikan inilah muncul ahli bio kimia, ahli ekonomi, ahli seni, setelah memperhatikan kebutuhan unsur-unsur hara yang di inginkan tanaman tersebut. Dilihat dari segi keindahan, sang pelukis dan ahli interior melihat objek secara langsung apa yang dilihatnya – dimanfaatkannya untuk karya seninya yang indah. Demikian seterusnya sehingga Islam menjadi berkembang dan besar seperti pada masa keemasannya di mulai tahun 900 sampai tahun 1100 M. Namun akhirnya Islam menjadi mundur akibat tidak ada lagi halaqah-halaqah pengkajian yang menyajikan kandungan Alqur’an serta akibat peperangan yang berkecamuk lama dan konflik antara madzhab-madzhab yang ada masa itu.

Halaqah-halaqah ini sampai sekarang masih semarak bahkan di kampung-kampung, di kantor-kantor, di televisi di radio – serentak begitu hebatnya dan tidak ada bosan-bosannya – karena dorongan belajar yang tinggi dan berpahala jika mendengarkan ilmu yang di sajikan oleh para ustadz atau kiyai. Akan tetapi malang bagi ummat, setiap pengajaran ilmu-ilmu yang disajikan, tidak terlintas ajaran meneliti dan memperhatikan serta menganalisa setiap peristiwa. Kecuali hanya mempersoalkan furu’yah yang tidak habis-habisnya.

Saya setuju dengan apa yang dilakukan oleh Prof. Hembing, karena beliau adalah salah satu orang yang meneliti tanaman untuk pengobatan. Saya kira sangat baik kalau di dalam pengajian di lingkungan kita, beliau di undang untuk berceramah mengenai bidangnya. Karena beliau telah mengamalkan ayat Alqur’an secara langsung dan bisa dibuktikan manfaatnya. Dari pada kita membaca Alqur’an yang tidak mengerti artinya sehingga masyarakat kita menjadi buta dan terbelakang. Atau kita undang Profesor Dadang Hawari untuk membicarakan mengenai kenakalan remaja, masalah narkotik, bahayanya terhadap mental. Karena beliau termasuk orang yang telah membuktikan kebenaran Alqur’an masalah zat adiktif yang merusak jaringan otak manusia serta dampaknya terhadap generasi muda. Mengapa pengajian kita hanya di isi oleh orang yang tidak perpengetahuan masalah kandungan Alqur’an.

Mudah-mudahan diantara kita tidak terjadi salah faham karena pendapat saya ini

Dan menjadi renungan masa akan datang untuk anak-anak kita, untuk dikenalkan dengan bahasa Alqur’an yang bersifat memotivasi ummat untuk belajar dan meneliti lingkungan di sekitar kita.

This entry was posted in Abu Sangkan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s